Presiden Como Asal Indonesia Relakan Kursi UCL untuk Suporter Lansia 75 Tahun ke Atas

guyonanbola.com – Presiden Como 1907 asal Indonesia, Mirwan Suwarso, mencuri perhatian menjelang malam bersejarah klubnya di Liga Champions. Ia mengambil keputusan yang menunjukkan hubungan kuat antara manajemen klub dan para pendukung setia.
Mirwan bersama sejumlah direktur Como memilih melepas jatah kursi mereka untuk pertandingan melawan RB Leipzig. Mereka ingin memberikan kesempatan tersebut kepada para pendukung senior yang sudah mengikuti perjalanan panjang klub.
Como memprioritaskan tifosi yang lahir pada 1950 atau sebelumnya. Dengan ketentuan tersebut, para penggemar berusia sekitar 75 tahun ke atas mendapat kesempatan menikmati malam bersejarah di Stadion Giuseppe Sinigaglia.
Keputusan itu muncul ketika permintaan tiket pertandingan jauh melampaui kapasitas stadion. Para suporter menunjukkan antusiasme besar karena Como akan menjalani pertandingan Liga Champions pertama dalam sejarah klub.
Mirwan Suwarso Hormati Loyalitas Tifosi Senior
Mirwan memiliki alasan kuat saat menentukan kelompok suporter yang berhak menerima kursi tersebut. Ia ingin menghormati orang-orang yang terus mengikuti Como dalam berbagai periode.
Para tifosi senior menyaksikan perjalanan Como ketika klub belum menikmati perhatian besar seperti sekarang. Mereka terus memberikan dukungan ketika klub berjuang di level bawah sepak bola Italia.
Kini Como memasuki salah satu periode terbaik sepanjang sejarahnya. Klub tersebut tidak hanya bersaing di Serie A, tetapi juga masuk ke panggung tertinggi sepak bola antarklub Eropa.
Karena itu, Mirwan ingin melibatkan para pendukung lama dalam momen spesial tersebut.
Ia bersama jajaran direktur memilih mengutamakan suporter yang telah menunggu puluhan tahun untuk melihat Como berlaga melawan klub elite Eropa.
Mirwan juga mengajak masyarakat mengajukan nama pendukung Como kelahiran 1950 atau sebelumnya. Klub kemudian dapat memberikan kursi kepada tifosi yang memenuhi kriteria tersebut.
Como Hadapi RB Leipzig dalam Malam Bersejarah
Como akan menghadapi RB Leipzig di Stadion Giuseppe Sinigaglia pada Kamis, 10 September 2026 pukul 21.00 waktu Italia. Pecinta sepak bola Indonesia dapat mengikuti pertandingan itu pada Jumat, 11 September 2026 dini hari WIB.
Pertandingan tersebut membawa arti besar bagi Como.
Klub asal Lombardia itu akan memulai perjalanan perdananya dalam UEFA Champions League. Cesc Fabregas dan para pemain Como tentu ingin memanfaatkan dukungan publik sendiri untuk membuka perjalanan Eropa dengan hasil positif.
UEFA juga memberikan lampu hijau kepada Stadion Giuseppe Sinigaglia untuk menggelar pertandingan kandang Como dalam Liga Champions musim 2026/2027.
Sebelumnya, Como melakukan berbagai peningkatan fasilitas stadion agar memenuhi standar kompetisi Eropa. Klub membangun tribune baru serta meningkatkan infrastruktur, sistem keamanan, dan fasilitas operasional.
Como tetap memilih Sinigaglia sebagai rumah mereka untuk Liga Champions. Keputusan tersebut menjaga ikatan emosional klub dengan kota dan suporternya.
Tiket Ludes karena Antusiasme Suporter
Antusiasme besar langsung muncul ketika Como membuka penjualan tiket pertandingan melawan RB Leipzig.
Ribuan pendukung ingin menyaksikan sejarah dari dalam stadion. Namun, kapasitas Sinigaglia tidak mampu menampung seluruh permintaan tersebut.
Untuk laga Liga Champions, stadion menampung sekitar 11 ribu penonton karena aturan UEFA mengurangi kapasitas yang dapat klub gunakan. Kondisi tersebut membuat persaingan mendapatkan tiket semakin ketat.
Tiket pertandingan kemudian habis menjelang laga.
Situasi itu mendorong Mirwan dan sejumlah direktur mengambil keputusan yang menarik perhatian publik. Alih-alih menggunakan tempat mereka sendiri, mereka memilih menyerahkannya kepada pendukung senior Como.
Aksi tersebut membawa pesan kuat.
Manajemen ingin menunjukkan bahwa perjalanan Como tidak hanya bergantung pada pemain, pelatih, atau pemilik modal. Para pendukung juga memainkan peran penting dalam sejarah klub.
Como Menikmati Perkembangan Pesat Bersama Cesc Fabregas
Perjalanan Como menuju Liga Champions menunjukkan perkembangan luar biasa dalam beberapa tahun terakhir.
Como kembali mencapai Serie A pada 2024. Setelah itu, klub terus memperkuat struktur tim dan mengembangkan proyek sepak bola bersama Cesc Fabregas.
Fabregas membangun tim yang berani memainkan sepak bola menyerang. Ia mengandalkan pemain muda berbakat sekaligus menambahkan pemain berpengalaman untuk menjaga keseimbangan skuad.
Hasilnya membawa Como menuju level yang sebelumnya sulit banyak orang bayangkan.
Como mengakhiri Serie A 2025/2026 di posisi empat besar. Prestasi tersebut membuka pintu menuju Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah klub.
Tim asuhan Fabregas juga membawa modal positif menjelang pertandingan melawan Leipzig.
Como baru saja menghajar Genoa dengan skor 4-1 dalam pertandingan Serie A. Martin Baturina, Assane Diao, dan Nico Paz memberikan kontribusi besar dalam kemenangan tersebut.
Diao mencetak dua gol, sedangkan Baturina dan Nico Paz masing-masing menambahkan satu gol. Moise Kean juga menjalani debut bersama Como dan memberikan assist kepada Diao.
Sentuhan Indonesia Mengiringi Kebangkitan Como
Nama Indonesia memiliki hubungan kuat dengan perkembangan Como dalam beberapa tahun terakhir.
Keluarga Hartono mengambil alih klub melalui kelompok bisnis asal Indonesia pada 2019. Setelah itu, manajemen membangun proyek jangka panjang untuk membawa Como kembali menuju level tertinggi.
Mirwan Suwarso kemudian memainkan peran penting sebagai Presiden Como.
Ia tidak hanya mengurus sisi bisnis dan pengembangan merek. Mirwan juga terus menekankan hubungan antara klub, Kota Como, dan masyarakat lokal.
Keputusan memberikan kursi Liga Champions kepada tifosi senior mencerminkan pendekatan tersebut.
Como memang mulai membangun nama sebagai klub dengan ambisi internasional. Namun, manajemen tetap ingin menjaga akar lokal yang membentuk identitas klub.
Hadiah untuk Mereka yang Menunggu Puluhan Tahun
Bagi sebagian suporter senior Como, pertandingan melawan RB Leipzig membawa makna yang jauh lebih besar daripada pertandingan biasa.
Mereka mengikuti klub selama puluhan tahun. Mereka melihat Como mengalami naik turun kompetisi dan menjalani berbagai masa sulit.
Sekarang mereka akhirnya dapat menyaksikan klub kesayangan mereka tampil di Liga Champions.
Mirwan Suwarso memahami nilai emosional dari perjalanan tersebut. Karena itu, ia memilih memberikan kursinya kepada orang-orang yang telah menunggu paling lama.
Langkah itu mungkin hanya melibatkan sejumlah kecil kursi. Namun, nilai simbolisnya jauh lebih besar.
Mirwan dan jajaran direksi mengirim pesan bahwa Como tidak melupakan orang-orang yang menjaga loyalitas ketika klub belum menikmati kesuksesan.
Saat lagu Liga Champions menggema di Giuseppe Sinigaglia, para tifosi senior akan menjadi bagian dari sejarah tersebut.




