Kroasia Dibantai Inggris 0-7, Luka Modric Akui Malu Besar

guyonanbola.com – Kroasia mengalami malam yang sangat menyakitkan ketika menjamu Inggris dalam lanjutan UEFA Nations League 2026. Vatreni kalah telak 0-7 di Stadion HNK Rijeka pada Sabtu, 3 Oktober 2026.
Kekalahan tersebut langsung masuk buku sejarah.
Kroasia belum pernah kalah dengan margin tujuh gol sejak negara itu membentuk tim nasional sendiri.
Luka Modric bahkan mengakui rasa malu setelah pertandingan.
Kapten veteran Kroasia itu sudah membela negaranya selama sekitar dua dekade. Namun, ia menyebut hasil melawan Inggris memberikan perasaan yang belum pernah ia alami sebelumnya.
Inggris tampil luar biasa sepanjang pertandingan.
Harry Kane dan Bukayo Saka masing-masing mencetak dua gol. Jude Bellingham, Anthony Gordon, dan Morgan Rogers melengkapi pesta tujuh gol The Three Lions.
Inggris Langsung Kuasai Pertandingan
Inggris memasuki pertandingan dengan agresivitas tinggi.
Pasukan Thomas Tuchel menekan Kroasia sejak awal dan tidak memberikan banyak ruang kepada lini tengah tuan rumah.
Kroasia sebenarnya memiliki pemain berpengalaman seperti Luka Modric.
Namun, pengalaman tersebut tidak cukup untuk menghentikan intensitas Inggris.
The Three Lions menggerakkan bola dengan cepat.
Mereka juga mampu memanfaatkan ruang yang muncul di antara lini pertahanan Kroasia.
Dominasi tersebut terus meningkat sepanjang pertandingan.
Inggris menghasilkan 19 tembakan.
Sepuluh percobaan mengarah tepat ke gawang.
Kroasia hanya mampu menghasilkan satu peluang yang mengarah ke sasaran.
Perbedaan statistik tersebut menggambarkan betapa dominannya Inggris.
Saka dan Kane Jadi Aktor Utama
Bukayo Saka menjadi salah satu pemain paling berbahaya.
Winger Inggris tersebut terus memberikan tekanan dari sisi lapangan.
Kecepatan dan pergerakannya membuat pertahanan Kroasia kesulitan menjaga posisi.
Saka akhirnya mencetak dua gol.
Harry Kane juga memberikan kontribusi besar.
Kapten Inggris tersebut mencetak brace dan kembali menunjukkan ketajamannya di level internasional.
Kane tidak hanya menunggu bola di kotak penalti.
Ia juga turun untuk membantu membangun serangan.
Pergerakannya membuka ruang bagi Bellingham, Gordon, dan pemain Inggris lainnya.
Bellingham Ikut Mengacak Pertahanan Kroasia
Jude Bellingham juga tampil sangat menonjol.
Gelandang Inggris tersebut mencetak satu gol dan memberikan tiga assist.
Performa itu membuat Kroasia semakin kesulitan mengendalikan pertandingan.
Bellingham mampu bergerak dari lini tengah menuju area berbahaya dengan cepat.
Ia juga menemukan celah di antara lini tengah dan pertahanan Kroasia.
Kombinasi Bellingham dengan Kane dan Saka membuat Inggris memiliki banyak variasi serangan.
Kroasia tidak mampu menemukan cara untuk menghentikannya.
Anthony Gordon dan Morgan Rogers kemudian ikut mencetak gol.
Inggris akhirnya menutup pertandingan dengan skor 7-0.
Modric Mengaku Malu setelah Laga
Luka Modric tidak berusaha mencari alasan setelah pertandingan.
Pemain berusia 41 tahun itu mengakui Kroasia tampil sangat buruk.
Modric mengatakan ia sudah berada bersama tim nasional selama sekitar 20 tahun.
Namun, untuk pertama kalinya ia merasa malu setelah sebuah pertandingan.
Pernyataan tersebut menunjukkan betapa beratnya kekalahan ini bagi kapten Kroasia.
Modric juga meminta rekan satu tim tidak saling menyalahkan.
Menurutnya, seluruh pemain harus tetap bersatu.
Kroasia pernah mengalami kekalahan besar sebelumnya.
Namun, Modric menilai perasaan setelah kekalahan 0-7 dari Inggris sangat berbeda.
Kroasia Catat Kekalahan Terburuk Sepanjang Sejarah
Hasil 0-7 menciptakan rekor buruk baru bagi Kroasia.
Sebelumnya, kekalahan terbesar mereka terjadi ketika Spanyol menang 6-0 pada UEFA Nations League 2018.
Kroasia juga pernah kalah 1-5 dari Inggris pada 2008.
Namun, kedua hasil tersebut masih kalah buruk dibanding kekalahan terbaru.
Kali ini, Inggris mencetak tujuh gol tanpa balas.
Lebih menyakitkan lagi, Kroasia mengalami hasil tersebut di kandang sendiri.
Vatreni biasanya terkenal sebagai tim dengan mental kuat.
Mereka mencapai final Piala Dunia 2018.
Kroasia juga mencapai semifinal Piala Dunia 2022.
Karena itu, kekalahan tujuh gol terasa semakin mengejutkan.
Laga Berlangsung dengan Kondisi Tribun Tidak Biasa
Pertandingan di Rijeka juga menghadirkan situasi unik.
Kroasia menjalani sanksi akibat persoalan penonton pada pertandingan sebelumnya.
Karena itu, hanya anak-anak di bawah usia 14 tahun yang boleh menyaksikan pertandingan secara langsung di stadion.
Situasi tersebut menciptakan atmosfer yang berbeda.
Namun, Kroasia tetap memiliki keuntungan bermain di negara sendiri.
Sayangnya, keuntungan itu tidak memberikan dampak positif.
Inggris justru tampil sangat nyaman sejak awal.
Mereka memainkan pertandingan dengan keberanian dan kepercayaan diri tinggi.
Thomas Tuchel Puas dengan Performa Inggris
Thomas Tuchel menyebut penampilan Inggris sebagai performa yang sangat lengkap.
Ia melihat pemain mampu menjalankan rencana dengan disiplin.
Inggris tidak hanya kuat dalam menyerang.
Mereka juga mampu menjaga struktur pertahanan.
Kroasia hampir tidak mendapatkan ruang untuk mengembangkan permainan.
Tuchel juga melihat intensitas pressing sebagai faktor penting.
Inggris mampu merebut bola dengan cepat.
Setelah itu, mereka langsung mengubah situasi menjadi serangan.
Strategi tersebut membuat Kroasia kesulitan mengontrol tempo.
Inggris Bangkit setelah Start Nations League Tidak Sempurna
Kemenangan besar ini memiliki arti penting bagi Inggris.
The Three Lions memulai UEFA Nations League 2026 dengan hasil yang tidak sepenuhnya ideal.
Mereka sempat kalah dari Spanyol.
Namun, Inggris kemudian memperbaiki performa.
Mereka mengalahkan Republik Ceko sebelum menghancurkan Kroasia.
Kini Inggris mengoleksi enam poin dari tiga pertandingan.
Mereka menempati posisi kedua Grup A3.
Spanyol masih memimpin dengan sembilan poin.
Persaingan menuju fase berikutnya masih sangat terbuka.
Kroasia Terpuruk di Posisi Ketiga
Kroasia kini berada di posisi ketiga grup.
Vatreni baru mengumpulkan tiga poin dari tiga pertandingan.
Mereka hanya memiliki satu kemenangan.
Kekalahan telak dari Inggris juga memberikan dampak buruk terhadap selisih gol.
Situasi tersebut membuat Kroasia menghadapi tekanan besar pada pertandingan berikutnya.
Tim harus segera memberikan respons.
Jika tidak, peluang mereka untuk bersaing di fase berikutnya dapat semakin sulit.
Pelatih Zlatko Dalic kini memiliki pekerjaan besar.
Ia harus memperbaiki pertahanan.
Tim juga perlu menemukan kembali stabilitas di lini tengah.
Modric Tetap Minta Tim Bersatu
Meski sangat kecewa, Modric tidak ingin kekalahan ini memecah tim.
Ia meminta para pemain tetap bersama.
Menurutnya, menyalahkan satu atau dua pemain tidak akan menyelesaikan masalah.
Seluruh tim harus bertanggung jawab.
Sikap tersebut mencerminkan pengalaman Modric sebagai kapten.
Ia memahami bahwa tim akan menghadapi kritik besar.
Namun, Kroasia tetap membutuhkan ketenangan untuk bangkit.
Mereka tidak dapat mengubah hasil pertandingan.
Mereka hanya bisa memberikan respons pada laga berikutnya.
Usia Modric Ikut Menjadi Sorotan
Modric kini berusia 41 tahun.
Namun, ia masih menjadi bagian penting tim nasional Kroasia.
Pengalamannya membantu tim menjaga keseimbangan.
Namun, kekalahan dari Inggris juga memunculkan pertanyaan tentang proses regenerasi.
Kroasia memiliki sejumlah pemain muda.
Namun, transisi dari generasi Modric menuju generasi baru belum sepenuhnya selesai.
Tim harus menemukan kombinasi tepat antara pemain senior dan pemain muda.
Proses tersebut menjadi semakin penting setelah kekalahan besar ini.
Inggris Kirim Pesan Kuat kepada Rival
Kemenangan 7-0 tidak hanya menghasilkan tiga poin.
Inggris juga mengirim pesan kepada rival-rival mereka.
Pasukan Tuchel menunjukkan kemampuan menyerang yang sangat kuat.
Mereka memiliki banyak pemain yang mampu mencetak gol.
Saka dan Kane menjadi ancaman utama.
Namun, Bellingham, Gordon, dan Rogers juga mampu memberikan kontribusi.
Kedalaman tersebut memberikan banyak pilihan kepada Tuchel.
Inggris kini memiliki momentum besar untuk melanjutkan perjalanan di Nations League.
Kroasia Harus Segera Melupakan Malam Buruk
Kekalahan 0-7 akan sulit Kroasia lupakan.
Namun, mereka tidak memiliki banyak waktu untuk terus memikirkan hasil tersebut.
Kompetisi masih berjalan.
Kroasia masih memiliki peluang untuk memperbaiki posisi.
Tim harus mengevaluasi semua aspek.
Pertahanan membutuhkan organisasi lebih baik.
Lini tengah perlu mengendalikan permainan.
Para pemain juga harus memperbaiki komunikasi.
Kekalahan besar memang dapat menghancurkan kepercayaan diri.
Namun, respons setelah kekalahan akan menentukan karakter tim.
Malam Terburuk dalam Sejarah Vatreni
Bagi Kroasia, pertandingan melawan Inggris akan masuk catatan sejarah karena alasan yang tidak mereka inginkan.
Vatreni kalah tujuh gol tanpa balas.
Inggris mendominasi hampir seluruh aspek permainan.
Saka dan Kane mencetak dua gol.
Bellingham tampil luar biasa.
Gordon dan Rogers ikut melengkapi pesta.
Sementara itu, Kroasia hampir tidak memberikan ancaman.
Luka Modric tidak menyembunyikan rasa kecewanya.
Kapten Kroasia tersebut bahkan mengaku merasa malu.
Namun, ia tetap meminta tim bersatu.
Kroasia sekarang memiliki dua pilihan.
Mereka dapat terus tenggelam dalam kekalahan atau menggunakan malam buruk di Rijeka sebagai titik balik.
Bagi tim dengan pengalaman panjang di turnamen besar, respons pada pertandingan berikutnya akan menunjukkan apakah Vatreni masih memiliki kekuatan untuk bangkit.




